Read Dyah Pitaloka: Korban Ambisi Politik Gajah Mada by Hermawan Aksan Online

dyah-pitaloka-korban-ambisi-politik-gajah-mada

Gajah Mada tidak ingin Kerajaan Sunda menjadi kerikil dalam Kerajaan Majapahit. Untuk melengkapi keberhasilannya menyatukan Nusantara, Majapahit harus menaklukkan Sunda. Bila kekuatan angkatan perang tidak mungkin, cara lainnya adalah melalui pernikahan. Pernikahan Dyah Pitaloka dengan Raja Majapahit, bagi Gajah Mada, bukanlah perkawinan antara seorang raja dengan putri daGajah Mada tidak ingin Kerajaan Sunda menjadi kerikil dalam Kerajaan Majapahit. Untuk melengkapi keberhasilannya menyatukan Nusantara, Majapahit harus menaklukkan Sunda. Bila kekuatan angkatan perang tidak mungkin, cara lainnya adalah melalui pernikahan. Pernikahan Dyah Pitaloka dengan Raja Majapahit, bagi Gajah Mada, bukanlah perkawinan antara seorang raja dengan putri dari dua kerajaan, melainkan penyerahan upeti sebagai tanda takluk Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada, melalui Sumpah Palapa, telah mengukuhkan simbol dirinya sebagai sosok patih yang ambisius. Ambisinya itu tidak hanya membumihanguskan Kerajaan Sunda, juga dirinya sendiri. Pahlawan terbesar sepanjang sejarah Majapahit itu, orang yang pertama kali menyatukan seluruh Nusantara, akhirnya menjadi buronan negerinya sendiri. Nama besarnya runtuh karena hanya mementingkan ambisi dan mengabaikan sesuatu yang tak kalah besar: Cinta...

Title : Dyah Pitaloka: Korban Ambisi Politik Gajah Mada
Author :
Rating :
ISBN : 9789791227080
Format Type : Paperback
Number of Pages : 328 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Dyah Pitaloka: Korban Ambisi Politik Gajah Mada Reviews

  • Mahansa Sinulingga
    2019-01-04 21:01

    jadi ngerti sejarah negeri sendiri. dulu sempat diajari waktu sd, tapi sudah nguap semua. setelah baca buku ini, jadi sadar bahwa ternyata suatu ketika bangsa ini pernah punya mental dan nyali. betapa jahanam penjajah yang mengikis habis mental tersebut dan menjadikan bangsa ini bangsa yang bermental pengecut...

  • Wijaya
    2019-01-02 00:21

    Mengapa Dyah Pitaloka Sampai Bunuh Diri?Nampaknya tidak ada sumber sejarah yang menerangkan hingga detail apa motivasi Dyah Pitaloka bunuh diri. Pemahaman umum yang berkembang adalah karena putus asa karena semua keluarganya yang bertempur dengan gagah berani telah dibunuh pasukan Bhayangkara Majapahit. Celah ini, seperti ketika novel-novel bercerita tentang kisah cinta Gayatri (permaisuri Rajapatni — isteri Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana), dimanfaatkan oleh penulis untuk memasukkan drama romantis yang tragis.Langit Kresna Hariadi, dalam novel Perang Bubat, mengisahkan bahwa Dyah Pitaloka sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta kepada seorang rakyat jelata bernama Saniscara. Saniscara telah menumpahkan perasaan cintanya dengan cara yang paling mengagumkan yang bisa dibayangkan wanita mana pun: lukisan. Goresan-goresan dalam kanvasnya ditorehkan dengan penuh gairah. Dan ternyata cinta yang paling murni dari dua anak manusia ini bersambut, tetapi tidak mungkin bersatu karena faktor politik dan kedudukan serta derajat yang berbeda. Ini memberikan ruang bagi pembaca untuk bereksplorasi tentang apakah cinta harus dihalangi oleh norma-norma seperti itu.Saya membayangkan, biar bagaimanapun juga, Dyah Pitaloka adalah seorang putri raja. Saya membayangkan ia adalah gadis yang dewasa (kenapa novel selalu melukiskan putri raja itu cantik dan manja?). Ia menyadari ia adalah kunci politik yang berharga dalam hubungan diplomatik dua negara. Jika pernikahannya dengan Prabu Hayam Wuruk bisa menyelamatkan Sunda Galuh dari posisi takluk sebagai negara jajahan, ia akan menekan segala perasaan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan cinta pribadinya. Toh, Prabu Hayam Wuruk kan raja yang tampan juga.Jika ternyata kemudian ia telah ditelikung, dicurangi oleh Mahapatih Gajah Mada, dan keluarganya habis terbunuh, harga dirinya lah yang membuat ia lebih baik mati daripada harus menjadi putri seserahan. Jika keluarganya telah bersikap patriotik heroik, mengapa ia tidak melakukan jalan yang sama? Berdasarkan ini, saya memaklumi putri Sunda yang cantik itu mengambil keris kecil dan menusuk dadanya sendiri.Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak. Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancak politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan-kerajaan Islam (Demak Bintoro)

  • Ronald
    2018-12-28 01:23

    novel ini menceritakan kehidupan Dyah Pitaloka hingga kematiannya dalam perang bubat. Hayam Wuruk yang telah menjadi raja Majapahit pada saat itu menginginkan seorang istri untuk mendampinginya. dia mengutus orang-orangnya ke berbagai kerajaan dan vasal-vasalnya tapi tak seorangpun wanita yang berkenan di hatinya hingga saat itu. Kemudian dia mendengar bahwa raja pajajaran, yang kita kenal dengan nama Prabu Siliwangi memiliki seorang puteri yang cantik. saat utusannya datang membawa lukisan Dyah Pitaloka,Prabu Hayam Wuruk merasa bahwa wanita itulah yang pantas untuk menjadi pendampingnya.sementara itu Mahapatih Gajahmada berpikiran bahwa inilah kesempatannya untuk memenuhi ambisinya, menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Gajahmada memanfaatkan kedatangan Rombongan dari kerajaan Pajajaran untuk menyatakan ketundukan pajajaran pada Majapahit..... (kisah selanjutnya ada di buku ini).sayangnya penulis buku ini terlalu banyak menuliskan hal-hal yang tak perlu dituliskan karena membuat buku ini menjadi membosankan. beberapa hal sebaiknya dituliskan di luar buku ini saja.

  • Restu Aji
    2018-12-27 18:00

    Pengaturan alurnya menarik, diksinya apik, sayang banyak hal-hal yang di terlalu panjang-panjangkan yang jika tidak adapun tidak masalah...atau mungkin bahasa lainnya ada sejumlah elemen cerita yang menurutku nanggung banget. Misal hubungan si Dyah dengan seorang prajurit di Sunda, menurutku lebih menarik kalau mau dikarang sekalian (Ini kan sudah masuk ranah novel alias fiksi jadi sekalian saja buat lebih berani). Sekalian saja mereka memadu kasih gitu. Bukan cuma ngintip si Dyah lagi mandi doang. Buat apa juga Prapanca dikisahkan ketemu Dyah cuma buat sekedar "say Hi". Apa intinya Prapanca ketemu si Dyah? Kan di Negerakertagama gak menceritakan Perang Bubat.Menurutku si penulis terlalu terjebak pada bingkai data sejarah (Pararaton dan Kidung Sunda). Dia ingin membuat novel yang seakurat mungkin menggambarkan sejarah. Sehingga ceritanya serba nanggung dan tidak memberi jawaban misteri Bubat menurut versinya sendiri.

  • Astrid Paramita
    2018-12-23 01:02

    Menarik. Isi novel ini kebanyakan bertutur tentang sejarah (entah 100% benar atau sebagian fiksi) dan berbagai kisah rakyat yang ada di tatar Sunda. Aku cukup suka point of view-nya yang mengambil cerita Dyah Pitaloka. Kurang lebih kisah ini adalah kisah cinta tragis bak Romeo and Juliet. Still feel it could've been better, but it's a good way to give an insight to the history behind the love story.

  • Indah Threez Lestari
    2019-01-10 23:00

    Banyak uraian sejarahnya. Malah dialog antar tokoh saja jadi pelajaran sejarah... Yah, minimal jadi tahu kalau Wastukencana tuh adiknya Dyah Pitaloka.Good to know Dyah Pitaloka gemar membaca. Mungkin kalau hidupnya di zaman sekarang, sudah jadi anggota GRI... ^^

  • Panji Laksono
    2019-01-17 21:23

    iseng-iseng aja bacanya :Dcari variasi buku, awalnya sih tertarik sama judulnya . "KOrban Ambisi Politik Gajah Mada",.. mungkin aja sepaham, klo Gajah Mada emang penjajah :P

  • Rosis Arif
    2018-12-23 20:28

    Perang Bubat dari point of view Kerajaan Sunda. Pengen banget ngeliat buku iini diangkat ke layar lebar

  • Udiemad
    2019-01-12 00:02

    FANTASTIC

  • Palsay
    2018-12-20 21:58

    kalo kata temenku yang orang jawa, ini buku sunda-minded banget..hehehe..kalo aku sih lebih suka yang versi Sunda ini, cuma ga begitu cocok dengan gaya penulisannya Pak Hermawan.