Read Negeri Kabut by Seno Gumira Ajidarma Online

negeri-kabut

Buku Negeri Kabut ini berisi tiga belas cerpen tentang perjuangan manusia dalam mencapai keinginannya. Terkadang, untuk mencapai semua itu, tanpa disadari sang tokoh harus bertindak di luar kemampuannya. Ada pula keinginan yang di luar kendalinya: sang tokoh terjebak dalam suatu konflik yang tak mungkin dapat dihindari lagi. …. Segala sesuatu terjadi begitu saja. Tanpa siaBuku Negeri Kabut ini berisi tiga belas cerpen tentang perjuangan manusia dalam mencapai keinginannya. Terkadang, untuk mencapai semua itu, tanpa disadari sang tokoh harus bertindak di luar kemampuannya. Ada pula keinginan yang di luar kendalinya: sang tokoh terjebak dalam suatu konflik yang tak mungkin dapat dihindari lagi. …. Segala sesuatu terjadi begitu saja. Tanpa siasat, tanpa rencana....

Title : Negeri Kabut
Author :
Rating :
ISBN : 9789795539933
Format Type : Paperback
Number of Pages : 122 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Negeri Kabut Reviews

  • Teguh Affandi
    2019-04-23 17:03

    Sebagai Seno-is, saya merasakan ini adalah kumpulan cerpen SGA yang sangat berbeda. Mulai dari tema dan pesta imajinasi dan surealis yang dihadirkan. Kalau kita membaca buku ini, maka berjauhanlah dari cara kita membaca ketika berhadapan dengan Dunia Sukab atau Saksi Mata, bahkan kumpulan-kumpulan cerpen lainnya. Saya boleh mengatakan bahwa ini adalah puncak=puncak kepiawaian SGA dalam menjadikan imajinasi dan surealistik dalam sebuah cerita ringkas. Entah mengapa, saya juga harus mencopot slogan Ketika jurnalisme bungkam, sastra harus bicara milik SGA. Bukan tidak ada cerpen yang bernada kritis atas persoalan sosial, misal cerpen Rembulan Mengambang di Kolam Renang yang secara halus mengkritis para orang kaya yang merupakan hasil korupsi dan menelan semua kekayaan. Tetapi tone dari buku ini bukan pada maksud tersebut. Cerpen-cerpen dalam buku ini adalah kekayaan imajinasi yang perlu dibaca para penikmat Seno.Misal di Negeri Kabut, jangan kaitkan dengan novel Negeri Senja karena di Negeri Kabut lebih sederhana lagi. Tokoh aku yang pengembara masuk ke daerah negeri kabut dan semua yang ditulis Seno adalah imajinasi Seno atas rupa negeri kabut. Cerpen Perempuan Dengan Rajah Kupu-kupu di Dadanya adalah cerpen dengan yang paling imajinatif. Saya suka sekali. Mulanya, tato kupu-kupu itu menjadi kupu-kupu penuh cahaya saban pagi, dan kemudian hilang dan hadir kembali saban pagi.Tetapi cerpen favorit saya adalah Ada Kupu-kupu, Ada Tamu dan Rembulan Mengambang di Kolam Renang. KEduanya asyik saja.Dan ending yang khas Seno ada di cerpen Ada Kupu-kupu, Ada Tamu dan Sukab Menggiring Bola.Asyeeeklah!

  • Marina
    2019-04-15 13:49

    ** Books 94 - 2017 **3,3 dari 5 bintang! Karya-karya Seno Gumira selalu memikat saya setelah karya Ahmad Tohari. Banyak sekali cerpen-cerpen didalamnya yang membuat saya bertanya-tanya akan dibalik maknanya. Saya membaca ini karena jujur saya menyukai buku Negeri Senja dan penasaran akan hubungan kedua buku ini yang ternyata tidak ada hahahaTerimakasih Scoop Premium!

  • Nonna
    2019-04-23 11:49

    Mungkin kalau Negeri Kabut dibuatkan filmnya, Tim Burton adalah sutradara yang paling pas.

  • Eko Setyo Wacono
    2019-03-26 17:01

    untuk tulisan bergenre surealis, bagi saya, belum ada tulisan yang lebih menarik dari tulisan-tulisan Seno Gumira Ajidarma. pada dasarnya, konsep surealis di buku ini hampir sama dengan konsep buku beliau yang lain, "sepotong senja untuk pacarku". hanya saja, cerita-cerita di buku ini terkesan lebih halus. pak SGA memadukan identitas-identitas lokal dari setiap tempat dia menulis cerita (pada buku ini sebagian besar cerita ditulis di luar negeri seperti bangkok, vietnam, kathmandu, ulan bator) dengan ide-ide surealis khas beliau yang anggun dengan pemilihan kata-kata dan metafora-metafora yang membuat setiap kalimat dan paragraf dalam buku ini laiknya sebuah gerbang yang membawa para pembacanya ke dalam sebuah dunia yang sunyi, hening, namun penuh dengan kejutan, seperti yang terbayang saat membaca judul dari buku ini. cerita-cerita dalam buku ini pun sarat dengan sentilan akan isu-isu yang berkembang di masyarakat, seperti isu sosial, politik, bahkan juga lingkungan. one of my favourite author. really worth reading.

  • Puri Kencana Putri
    2019-03-27 10:54

    Untuk mereka yang baru memulai membaca karya SGA, buku ini mungkin masuk kategori kelas berat. Ia tidak selentur saksi mata, mengapa kau culik anak kami, atau bahkan seintens drupadi. Tapi buku ini dapat dirasakan adalah karya ambisius SGA untuk merayakan imajinasi dan spirit surealisme. Jika kita ingin mengatakan demikian. Tentu saja 13 cerita ini tetap bisa dinikmati seperti kisah Ratri dan Burung Bangau, atau bahkan judul terakhir dari kisah Tempat yang Terindah untuk Mati, yang juga bicara tentang perjalanan, memori dan jarak. Negeri Kabut yang kini dicetak ulang setelah lebih dari 20 tahun yang lalu diterbitkan, sepertinya ingin mengatakan bahwa penting untuk melatih otot imajinasi para pembaca sastra Indonesia. Tentu saja sekali lagi buku ini bukan buku kebanyakan yang telah ditulis SGA.

  • NurulYaumil
    2019-04-14 13:39

    "Kita tidak boleh membunuh manusia, kita tidak boleh membunuh binatang, dan kupikir kita juga tidak boleh membunuh bunga-bunga--apalagi kalau hanya untuk memuaskan perasaan kita sendiri." (Cerpen Negeri Kabut, halaman 5)Menjadikan kumpulan cerpen ini sebagai bacaan pembuka 2018 nyatanya tidak buruk. Seno melalui karya-karyanya selalu memberikan sesuatu yang beda. Jika kalian sudah membaca karya SGA yang lain dan berharap menemukan hal yang sama di buku ini, mungkin kalian akan sedikit terkecoh.Cerpen-cerpen dalam buku ini sebagian besar berbau surealis. SGA mengkritik dengan caranya sendiri. SGA bercerita dengan caranya sendiri. Salah satu cerpen favorit saya berjudul Ada Kupu-Kupu, Ada Tamu. Penutup cerpen ini--dan juga beberapa cerpen lainnya benar-benar khas SGA.

  • Ajeng Veran
    2019-03-27 11:40

    Sejauh ini, cerpen Ada Kupu-kupu Ada Tamu lah yang paling gamblang tergambar maknanya di pikiran saya, yang dapat saya tangkap dengan mudah, tapi seusai membacanya cukup membikin agak ngeri. Lainnya, terlalu imajinatif dan membuat saya bertanya-tanya, "jadi, ini tadi maksudnya gimana?" Saya agak puyeng. Hehehe.. Mungkin inilah maksud surealisme, mementingkan aspek nonrasional, di luar kenyataan.

  • Iwan H
    2019-04-01 12:00

    Lebih cocok dibaca buat die hard fans nya Seno. Buat yang baru coba2 baca bukunya beliau, lebih baik cari judul yang lain. Terlalu banyak pertanyaan2 yang butuh perenungan. Saya tidak terlalu menikmati. Kurang piknik kayaknya. Piknik kemana dong? Masa ke negeri kabut.

  • Ratih
    2019-04-17 14:57

    edyaaaannn...!!!

  • Agata* Agata*
    2019-04-21 11:42

    Lebih tepatnya mungkin 6 bintang. Penuh dengan imajinasi surealis yang beberapa di antaranya seperti ramalan.

  • Adek
    2019-03-24 12:51

    Membayangkan cerita Ratri dan Burung Bangau betulan ada di dunia nyata.

  • Antonius Wendy
    2019-04-13 14:38

    Buku ini mungkin adalah kumpulan cerpen surealistik paling menarik yang pernah aku baca. Sejujurnya aku kehabisan kata-kata bahkan untuk mengkritik buku ini.

  • maila
    2019-04-15 17:52

    Terdiri dari 12 cerita pendek. Kesukaan saya Ada kupu-kupu, Ada tamu, di tepi sungai parfum dan ratri & burung bangau.Pas baca iru entah kenapa inget masa SMA saat sering tidur di perpus. Pas baca buku ini juga "rasanya" seperti sedang membaca di perpus hheSampulnya cakep. Dan iya, saya jadi mbayangin juga kalau ini dibuat film gimana ya. Sampulnya kayak poster film banget kalau kata saya.Beberapa kutipan kesukaan:...sepatuku sudah jebol-jebol dqn kakiku sudah pecah-pecah mengarungi perjalanan panjang dari kenyataan satu ke kenyataan lain... EDAN. KEREN BANGET!"Maneka.""Ya?""Lupakan aku.""Tidak."HADEEEHHHHHHKesukaan!

  • Ariel Seraphino
    2019-04-04 11:01

    Mabok surealisme. Begitulah akhirnya kalimat yang tepat untuk menggambarkan perjalanan saya selama membaca buku ini dari awal sampai akhir. Mungkin terutama sekali pada dua cerita pendek terakhir. Seno begitu kuat dalam bermain imajinasi ini dan semua detail yang dia gambarkan membuat saya seperti tidak tahan untuk segera menghabiskannya lebih cepat lagi. Narasi yang panjang, kalimat yang seolah tanpa jeda dan beranak pinak ini membuat saya lelah tentu saja. Berbeda sekali dibandingkan dengan kumcer Manusia Kamar yang saya baca sebelumnya. Dari Negeri Kabut ini saya hanya mampu menikmati beberapa cerita pendek saja, sebut saja Sukab Menggiring Bola yang saya bayangkan dalam kepala saya ketika membacanya seperti Forrest Gump yang terus berlari sejauh yang dia bisa dan hanya dengan berlarilah semuanya bisa diselesaikan. Begitu juga dengan Sukab yang terus menggiring bola itu. Kemudian dalam Ada Kupu-Kupu, Ada Tamu saya juga melihat bagaimana Seno menikmati betul caranya melambungkan imajinasi ceritanya menjadi terus terbang tanpa batas. Mirip dengan Seorang Wanita dengan Tato Kupu-Kupu di Dadanya. Seno bermain kupu-kupu yang semual datang satu kemudian datang dalam jumlah yang tidak bisa lagi ditanggung oleh si tokohnya. Kalau sudah begini saya jadi teringat dengan metode pembalasan Tuhan yang digambarkan dalam film Magnolia, di mana terdapat scene hujan kodok di akhir cerita. Yup! hujan kodok, mula-mula satu dan kemudian di seluruh kota kodok-kodok entah dari mana berjatuhan dari langit. Hmmm... Pada akhirnya, saya hanya bisa puas karena akhirnya saya menemui fase di mana saya akhirnya menemukan saat saya tidak nyaman dan menikmati lagi penulis idola saya bercerita. Apakah semua pembaca harus mengalami fase seperti ini? ataukah kita yang hanya sebagai penikmat ini harus bisa legowo untuk menerima bagus dan tidaknya kualitas cerita penulis idolanya? Hehehe saya pikir ini akan menjadi sangat subyektif. Tak mengapa, setidaknya saya mengambil pelajaran lagi dari buku Seno ini. Empat bintang lumayanlah.

  • Rai Indah Nurbani
    2019-04-12 16:49

    Sebelum review mau pamer dulu hehe... Kebetulan sewaktu kemarin ultah aku dikasih kado buku dari teman. Aku dibolehin milih tiga buah buku dari koleksi pribadi dia. Koleksinya menggiurkan semua, kalau bisa sih aku borong semua deh. *smirk*Anyway, salah satu dari buku yg kupilih adalah buku Negeri Kabut karya oom SGA ini berhubung aku penggemar berat beliau (dan karena buku ini LANGKA).Sebenarnya agak bingung juga mau tulis review apa soal buku ini. Mungkin seperti judulnya, kumpulan cerpen dalam buku ini bikin kepala berkabut. Bukan karena buku ini sulit dipahami (exception untuk Kejadian dan Long Puh, aku benar-benar nggak mudeng maksud ceritanya), tapi lebih karena suasana yg dihadirkan dalam cerpen-cerpen di dalamnya. Berbeda dengan buku Sepotong Senja untuk Pacarku, buku ini memberi suasana yang jauh lebih suram. Kalau Sepotong Senja untuk Pacarku mostly pure membahas keindahan senja, buku Negeri Kabut justru mengangkat tema yg lebih serius dan bervariasi. Misalnya saja di cerpen yg berjudul Perahu yang Muncul dari Balik Kabut dan Sukab Menggiring Bola, secara implisit membicarakan kerusakan bumi. Sedangkan pada cerpen Rembulan Tenggelam di Kolam Renang, SGA bercerita soal ego manusia. Masih banyak tema lain yg diangkat, yg kebanyakan lebih berbau budaya (dan mungkin humanis) dibanding Sepotong Senja.Overall, buku ini keren banget. Seperti biasanya gaya penceritaan SGA yg luar biasa imajinatif (baca: surealis), nyeleneh, namun bikin mikir selalu bikin aku takjub. Must read pokoknya kalau kamu penggemar SGA!

  • Zulfasari
    2019-03-29 11:49

    Diawali dengan kepulangan, diakhiri pula dengan kepulangan.Beri saya kisah tentang kepulangan, keterasingan, keanehan, dan perjalanan. "Negeri Kabut" memberi saya semua kisah itu. Bagi saya, Seno Gumira Ajidarma mencampur hal yang asing dan hal yang disebut normal dengan menarik.Kita menemukan jam digital di antara negeri yang rasanya tak tersentuh segala hal yang kita sebut modern dan canggih. Kita melihat Coca-Cola di antara keindahan yang terasa bagai di nirwana. Kita menemukan handphone yang siapa tahu saja bisa menghubungkan kita dengan Tuhan.Entah mana yang asing. Keadaan yang tidak mengikuti kemajuan zaman atau memang jam digital, Coca-Cola, dan handphone tadi yang mengusik dan tidak seharusnya ada di sana."Tidak masuk akal, bukan berarti tidak ada."

  • upiqkeripiq
    2019-04-16 14:06

    seno gumira "pak jendral"...buku cerpen yang bagus...beda dengan cerpen bang seno yang aku baca di koran...terpesona dengan kupu2, rembulan, kabut dan cara pengungkapannya...hohoho...4 bintang ^_^

  • nniittaa prastawaningrum
    2019-03-27 16:06

    never finished reading this book

  • Pra
    2019-04-12 17:04

    Sukab Menggiring Bola

  • Pattrinesia Herdianaira
    2019-03-24 11:56

    Buku ini mengajarkan saya tentang kearifan. Temanya Sederhana, namun berbahasa indah dan memiliki unsur magis saat membacanya.

  • Hasyim Ali
    2019-03-27 09:44

    sampai saat ini aku belum dapat kopiannya,padahal aku pengen banget membacanya. siapa yang mau membagi kopiannya padaku ?terima kasih sebelumnya.

  • Indah Threez Lestari
    2019-04-08 16:42

    881 - 2016

  • Stebby Julionatan
    2019-04-06 12:59

    bacaan wajib bagi penggemar sastra surealist

  • Dodi Prananda
    2019-04-14 12:48

    Cerpen yang indah dan rawan bikin ketagihan...

  • cindy
    2019-03-31 10:55

    Sukab dan Maneka.Kabut, kecapi dan kupu-kupu.*merenung**tarik napas paaaaanjaaang*OOT: jadi pengin baca panji tengkorak nih :p

  • Fairynee
    2019-04-10 12:41

    ada beberapa cerpen yang membuat kepala berkabut.